Tag Archives: aturan main

Pilpres, Quick Count dan Piala Dunia

Seminggu yang lalu, saya mendapat broadcast BBM dari teman bahwa kita—rakyat Indonesia– akan dilayani maksimal oleh dua pasangan presiden, yaitu Prabowo Subianto- Hatta Rajasa dan Joko Widodo- Jusuf Kalla. Konkretnya, di siang hari pasangan nomor 2 yang memimpin dan malamnya pasangan nomor 1 yang melayani rakyat. Sehingga, kita, rakyat, akan dilayani 24 jam.

Kalaulah boleh yang demikian, tentu ini adalah pembagian shift yang “ideal” dan maksimal, mengingat mereka sama-sama mengklaim dirinya menang. Namun, sistem yang seperti itu belum pernah ada di negara manapun, dimana ada dua presiden dalam satu negara. Hanya selorohan, mengingat kedua capres sama-sama mengklaim menang di sore harinya, pasca pemilihan presiden (pilpres) berdasarkan hasil Quick Count.

Seperti kita ketahui, ada delapan lembaga survei menyebutkan pasangan Jokowi-JK unggul. Mereka adalah RRI (Prabowo-Hatta 47,29 persen dan Jokowi-JK 52,71 persen), Litbang Kompas (47,66: 52,34), SMRC (47,09: 52,91), CSIS-Cyrus (48,00: 52,00), Lingkaran Survei Indonesia (46,56: 53,44), Indikator Politik Indonesia (47,06: 52,94), Poltracking Institute (46,63: 53,37), dan Populi Center (49,05: 50,95). Namun sebaliknya, ada empat lembaga survey yang mengunggulkan Prabowo-Hatta. Mereka adalah Puskaptis (Prabowo-Hatta 52,05: Jokowi-JK 47,95), Jaringan Suara Indonesia (50,14: 49,86), Lembaga Survei Nasional (50,56: 49,44), dan Indonesia Research Centre (51,11: 48,89).

Hasil real countnya memang belum kita ketahui, karena KPU belum menyelesaikan rekapitulasi suara, selaku penyelenggara pemilu. Akan tetapi, masing-masing kubu capres sudah saling mengklaim bahwa merekalah yang memegang tampuk pimpinan pilpres kali ini. Hal Inilah yang membuat publik pusing. Siapa yang “benar-benar” presiden kita?

Quick Count

Mengingat lembaga survey yang melakukan Quick Count sudah lebih dari satu, maka, sangat wajar kalau sampel yang diambil tidaklah persis sama antara satu lembaga dengan lembaga yang lain. Begitu pula hasilnya, tergantung kepada contoh (sampel) yang digunakan dan sembir galat (margin of error) yang dipakai. Untuk sebuah hasil yang ilmiah, sampelnya haruslah representative dan jumlahnya cukup, tidak memihak. “Data tidak memihak, yang memihak adalah manusia”, begitu kata pak Saiful Mahdi, pakar Statistik Unsyiah dalam diskusi publik di D’Rodya Coffee, 15 Juli 2014 dengan tema “Menanggapi Perbedaan Hasil Survey Quick Count Pilpres 2014 “. Nanti, akan ketahuan lembaga survey mana yang memihak, tentunya setelah KPU mengumumkan hasil real count.

Seperti pengalaman yang sudah-sudah, Quick Count menjadi tolak ukur sementara sebelum hasil real countnya diumumkan. Mulai dari pemilihan legislatif, kepala daerah, hingga ke presiden. Dan seperti sebelumnya pula, hasil real countnya berbeda dengan hasil Quick Count. Namanya juga dugaan, tentu tidak luput dari kesalahan, galat (error). Namun, harap dicatat,kalau metode yang dipakai benar, perbedaannya tidaklah mencolok sekali dengan pengumuman KPU.

Quick Count membantu capres, cagub, cabup, dan caleg untuk mengetahui secara sekilas dan cepat mengenai pendapat atau pilihan masyarakat terhadap elektabilitasnya. Keuntungannya,tidaklah seluruh penduduk menjadi sampel. Cukup mengambil sampel—dengan kadar tertentu—maka hasilnya bisa diketahui. Biaya dan waktu pun akan lebih hemat. Itulah kerja Quick Count, dari statistik.

Dengan adanya Quick Count, kita dapat mengetahui hasil dari pemilu secara cepat, sambil menunggu hasil realnya. Quick Count adalah salah satu unit statistik dengan menggunakan sebagian sampel, baik dipilih secara acak sederhana, maupun acak sistematis, bukan total populasi. Metode ini hanya mengambil beberapa sampel dari seluruh sampel yang diperlukan. Sehingga, hasilnya tidaklah sangat akurat atau sama persis seperti real count yang nantinya diumumkan oleh KPU. Oleh karenanya, sangatlah wajar kalau hasil yang diperoleh berbeda.

Nah, yang perlu dipertanyakan adalah metodologi yang digunakan seperti apa? Seberapa banyak sampel yang mewakili tingkat keterpilihan capres tertentu?. Apakah sampel yang diambil lebih banyak yang memilih capres tertentu atau sudah terwakili? Bila perlu, TPS mana saja yang dijadikan sampel dan berapa banyak total semuanya itu perlu dijelaskan ke pubilik. Sehingga, masyarakat tidak perlu ambil pusing masalah yang beginian. Mari kita kawal sama-sama “suara” kita agar hasil “real countnya” nanti memang suara sah, tidak terjadi manipulatif. Perdamaian dan kesatuan bangsa, itu yang mesti terjaga. Jangan sampai kita terpecah karena perbedaan hasil quick count.

Sama halnya dengan piala dunia, walau ada timnya yang kalah, buktinya, pertandingan piala dunia telah usai dengan keluarnya Jerman sebagai Juara mengalahkan Argentina dengan skor 1-0. Walaupun tuan rumah, Brazil, tidak mendapat piala apa pun, namun perhelatan olahraga Internasional empat tahunan itu tetap meriah dan aman-aman saja hingga final.

Begitu pula halnya pilpres yang lalu, kita telah sukses berdemokrasi. Walaupun sebelumnya ada yang meragukan itu. Kalau memang terjadi kecurangan, pihak yang merasa dirugikan agar melaporkan ke KPU dan Panwas Pemilu. Agar segera diambil jalan keluarnya.

Aturan Main

Dalam permainan—piala dunia dan tak terkecuali juga pilpres—tetap ada yang menang dan kalah. Jerman memang sudah jelas menjadi juara dunia kali ini, sejarah sudah mencatat. Sedangkan dalam pilpres, nantinya juga akan jelas siapa presiden terpilih. Karena kita belum menerapkan sistem e-vote, pemilihan elektronik, maka hasilnya tidak bisa kita ketahui langsung segera setelah penutupan pilpres. Kita harus bersabar, menunggu hasil real count dari KPU pada 22 Juli nanti, untuk menghindari pertikaian.

Mari sama-sama berharap bahwa siapapun yang terpilih nantinya, presiden “asli” akan memenuhi janji-janjinya selama kampanye dan terus melayani rakyat, bukan malah minta dilayani. Dan yang kalah sepatutnya “legawa” dan yang menang seyogianya tidak merendahkan yang kalah, menang dengan santun.

Pepatah mengatakan “don’t hate the player, but hate the game!” Jangan salahkan pemainnya, namun aturan mainnya. Karena di dalam permainan tetap ada menang dan kalah. Apakah Prabowo atau Jokowi? Kita nantikan saja! Semoga yang terbaik, yang dapat memberikan pelayanan terbaik, bagi kita semua! Amin.

Source of picture:m.bisnis.com
Advertisements