Tag Archives: pemilu 2014

Catatan Kecil Pemilu 2014


Pemilu memang sudah usai, namun cerita dibalik pemilu tetap menarik untuk diperbincangkan. Pada saat pileg, para kontestan yang sebelumnya belum punya akun Facebook dan Twitter, ramai-ramai membuat kedua akun tersebut. Mereka gencar memromosikan diri di dunia maya, di samping dunia nyata tentunya.

Selanjutnya, di dunia maya juga kerap muncul kampanye hitam dan “bully” caleg dan capres tertentu. Yang paling heboh adalah ketika masa kampanye capres. Hal ini kian gencar saja karena caparesnya hanya dua.

Tentu kita masih ingat ketika capres “kerempeng” dan capres “penunggang kuda” saling bertarung dalam arena yang tak terbatas. Ketika Anda membuka halaman Youtube, akan muncul kampanye salah satu kandidat. Baik untuk memilih salah satu atau menolak salah satunya, dengan berbagai alasan yang ada dibalik itu.

Dalam pada itu, beberapa kalangan membuat aksi tandingan –untuk mengimbangi kampanye hitam—dengan membuat “fun campaign”, kampanye menyenangkan alias lucu. Dengan beragam video yang menyindir atau sedikit meniru wajah para capres, seringkali membuat gelak tawa tak tertahan lagi.

Selain itu, ada juga yang ikut mengampanyekan “say no to golput”, sebagai lawan dari “golput”. Isinya adalah mengajak semua masyarakat, selaku konstituen, agar menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Golput sudahlah usai ketika “perang” melawan Orba dulu. Sekarang perjuangan adalah melalui “tidak golput”.

Catatan hitam

Meski “politik uang itu haram” sudah gencar didengungkan ke ruang publik dengan sanksi-sanksinya, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sistem ini masih dianut oleh sebagian masyarakat kita. Pada hari H pencoblosan ketika pileg pun belum mampu diredam sepenuhnya. Ada sebagian masyarakat “dihadang” di dekat tong pencoblosan oleh tim pemenangan dengan segelas kopi atau rokok. Di lain kesempatan dan tempat, ada juga yang diberikan kain sarung atau bahkan uang sejumlah tertentu, dari 30 ribu hingga 50 ribu per orangnya.

Memang, ada sebagian kalangan yang sudah menolak menerima uang. Sebagian malah ada yang mengatakan “ambil uangnya, jangan coblos orangnya”.

Kampanye hitam di Medsos

Di belahan dunia lain, dunia maya, aksi-aksi saling menghujat juga mewarnai pemilu kali ini. Dan yang paling parah adalah ketika pilpres. Dibandingkan dengan pileg, penggunaan media social sebagai aksi kampanye lebih banyak digunakan, baik langsung atau tidak. Yang melakukannya pun disinyalir juga bagian dari tim pemengangan capres tertentu, ada pula yang simpatisannya atau malah ada yang hanya iseng-iseng saja.

Ada yang “mengkritik” dengan masa lalunya, ada pula dengan tampangnya. Ada yang menggelar dengan “penunggang kuda”, ada juga dengan “kerempeng”. Semua dilihat dari sisi negatifnya.

Apresiasi dan harapan

Di lain sisi, pihak KPU juga mengundang kedua capres untuk memresentasikan visi dan misi serta berdebat demi kepntingan bangsa. Ini sebuah catatn yang bagus sekali dalam berdemokrasi kita.

Semoga ke depan bangsa ini bisa lebih maju lagi dan anak-anak bangsa dapat bangkit membangun negeri. Kita merindukan pemimpin sekaligus bangsa ini bangkit dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang mandiri dan disegani oleh bangsa lain.

Kita masih belajar berdemokrasi. Seiring waktu, kita akan semakin matang, jika kita belajar dari pengalaman dan tidak kembali ke masa yang kelam. Semoga kita bisa. Wallahuaa’lam Bisshawab!

Source of Picture: rumahpemilu.org

Advertisements