Tag Archives: Persen

Pemborong dan Pembohong

Salah satu proyek pembangunan via http://www.copime.org.ar

Sudah bukan rahasia lagi bahwa pemborong sering dilakabkan dengan pembohong. Pasalnya, pemborong itu melaksanakan proyek dan memperoleh untung. Seperti dalam prinsip ekonomi lama, modal yang sekecil-kecilnya dan laba yang sebesar-besarnya.

Mereka memegang proyek, baik skala kecil, menengah maupun besar. Sebenarnya, kita haruslah sangat berterima kasih kepada mereka. Akan tetapi, kadangkala, kita juga dibuat kesal bahkan menjadi ‘murka” tatkala hasil dari proyek mereka kurang memuaskan.

Contoh konkretnya dapat kita jumpai dalam proyek-proyek pemerintah. Dan yang paling nyata lainnya adalah proyek rehab-rekon pasca Tsunami di Aceh. Rumah memang ada, bangunan memang nyata, akan tetapi “kelayakan” pakai atau huni itu yang patut kita pertanyakan.

Rumah bantuan acapkali catnya luntur, pintunya rusak, dindingnya hancur atau lantainya duluan bolong. Ada juga yang semestinya berlantai keramik, namun nyatanya hanya beralaskan semen.

Persen

Bila kita tanyakan kepada pemegang proyek, mereka akan berkilah bahwa tendernya memang mereka yang pegang, tapi yang ,menikmatinya bukan dia saja. Mulai dari pihak pelelangan, pemerintah setempat, sampai dengan kaki tangan “yang membisikkan” proyek. Sehingga, kalau spesifikasinya sesuai dengan yang seharusnya, mereka—pemegang proyek—akan gotong royong, alias tidak dapat untung. Malahn, bisa saja rugi. Tak ada hasil dari jerih mereka. Lantas, “disulaplah” dengan sedemikian rupa. Agar semua dapat jatah.

Nah, persenan itulah yang membuat “proyek” mandeg atau tidak sesuai spesifikasi. Jadi, para kontraktor itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya juga. Persoalaan ini sebenarnya dikerjakan secara massif. Semua bisa saja terlibat. Untuk menguraikan masalah ini, perlu penelurusan mendalam. Menyelesaikan masalah ini pun tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Butuh kerjasama dan kemauan lintas sektor.

Bisa anda bandingkan dengan proyek swasta, selain cepat, juga standarnya pas. Karena memang, betul-betul dikerjakan dan tidak ada “main mata” di sana. standarnya sudah ada. Bila memang sudah cocok, laksanakan. Kalau belum, kita cari alternatif lain.

Hotel Hemes, misalnya, kurang dari setahun rampung. Padahal, hotel tersebut adalah hotel berbintang empat. Selain karena dananya cukup, tidak ada pemotongan, ia adalah kepemilikan swasta. Pengawasannya ketat dan berstandar. Pekerjanya bekerja siang dan malam, mengejar target yang ingin dicapai. Itulah salah satu yang belum ada dalam sistem pemerintahan kita dalam proyek pembangunan. Banyak yang bermain di sana. Katanya, “kalau tidak sekarang, kapan lagi?”. Selagi menjabat, ya manfatkanlah. Mungkin, suatu hari nanti itu akan berubah menjadi lebih baik (lagi).

Saling Lirik

Dalam proyek skala besar, ada sistem pelelangan. Pihak yang berwenang mengumumkan tender berperan besar di situ. Kalau “persennya” sesuai, pemborong tersebut dapat proyek. Salah seorang teman pernah bilang, “Sekarang, jangan harap semua bisa gratis. Kencing saja bayar”. Begitu kilahnya.

Advertisements