Bajing Loncat

Bajing loncat via bengkuluekspress.com

[Aceh Institute, 28 Februari 2015]

Mari sejenak beralih dari topik “Australia, Cicak vs Buaya jilid 2, Bali Nine, narkoba dan hukuman mati” dan melihat lagi topik “bajing loncat” yang merugikan kita, bukan cuma sopir angkutan. Seperti pernah diangkat oleh harian Serambi Indonesia (2/10/2014) tentang ‘Pengusaha Angkutan Aceh Ingin Tembak “bajing loncat”’. Sebelum lebaran haji kemarin, bahkan mungkin sampai sekarang, bajing semakin akrab saja di indera dengar dan visual kita. Tentunya, bukan sekadar tupai yang kerjaannya melompat dari satu pohon ke pohon lain guna mencari “setumpuk” rezeki. Lebih dari itu. Tupai yang loncat ke atas truk pengangkut barang, lalu menjarahnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bajing adalah tupai (ciurus notatus). Yang mengandung pengertian sebagai ‘binatang pengunggis buah-buahan, berbulu halus, berwarna kuning atau cokelat, hidup di atas pohon’. Sedangkan ‘bajing loncat adalah pencoleng yg mencuri barang muatan dr atas kendaraan (spt truk, bus) yg sedang berjalan’. Ada satu definisi lain, bajingan, yaitu penjahat; pencopet; kurang ajar (kata makian).

Bajing loncat kian intens diperbincangkan. Terlebih para sopir truk yang menjadi “korban kebajinganan” bajing loncat yang melewati perbatasan Aceh-Sumut. Seakan belum usai kasus serupa; pelemparan bus umum dan pemerasan atau pungutan liar di sekitar perbatasan, kasus ini pun “naik daun”.

Tidak jauh berbeda dengan leluhurnya—tupai–, bajing loncat pun semakin gesit saja aksinya di atas truk. Layaknya aktor yang sedang berlaga, mereka pun loncat dari sepeda motor ke atas truk angkutan yang sedang melaju dari dan menuju Aceh. Dengan senjata tajam mengikat di pinggang, perlahan diambil lalu disobeklah terpal yang menyelimuti barang. Sejumlah aksi itu berhasil, namun tak jarang yang menuai tragis. Bajing(an) itu jatuh, terluka atau meninggal dunia.

Bisa jadi, ini salah satu alasan harga bahan pokok, sembako hingga apapun yang “diimpor” dari Medan menjulang harganya ketika sampai di Aceh. Sebab, “ongkos pengamanan” itu tinggi.

Maka, beringaslah para sopir dan pemilik truk angkutan itu. Pernah suatu ketika, saya berbincang-bincang dengan salah seorang sopir truk. Katanya, “para bajing itu tidak takut jatuh atau dipukuli sama sopir truk. Kadang, mereka rela bergelantungan di atas truk demi merampas barang di atas truk”. Celakanya, terpal –yang harganya lumayan– yang dipasang di atas truk kerap koyak dan tidak bisa dipakai lagi setelah bajing “kerja”. Belum lagi dengan barang bawaan itu sendiri yang dirampas oleh para bajing.

Sopir tersebut pun punya “pegangan” sendiri, “kalau tidak dia (bajing loncat) yang mati, ya saya”. Ia sempat mengaku geram karena yang diambil bukan seperlunya saja. Melainkan merusak semua yang ada. “menyoe icok ubee peurlee hana peu-peu lah. Nyo, dipeurosak mandum”. Kalau diambil seperlunya saja tidak terlalu masalah, tapi mereka merusak semua.

Untuk menghindari loncatnya bajing ke atas truk, para sopir bersepakat akan berjalan beriringan, demi meminimalisasi perampokan. Beberapa kali sempat berhasil, kali lain barang di dalam truk masih sempat dibawa kabur.

Jatuh juga

Ada sebuah istilah yang sering kita dengar, ‘sepandai-pandai tupai melompat, ada kalanya ia jatuh juga’. Nah, begitu juga yang terjadi pada bajing yang sering melompat ke atas truk pengangkut barang di sekitar perbatasan Aceh-Sumut.

Para bajing loncat ada yang terlibat baku hantam dan bacok dengan para sopir. Ada yang terluka, bahkan meregang nyawa di tempat. Seperti pengakuan sopir tersebut. Katanya, “teman saya pernah melawan bajing. Akhirnya, setelah perlawanan sengit, bajing itu tewas jatuh dari truk”. Sebuah harga yang tidak murah untuk ditukarkan.

Hal ini bukan tanpa dasar, kenekatan para “tupai” itu sudah kelewatan. Yah, namanya juga nekat ya, kalau tidak hidup ya mati. Sebuah filosufi yang dipegang teguh oleh para bajing(an) itu.

Tuntaskan segera

Persoalan bajing loncat adalah persoalan klasik, namun terlalu usik kalau tidak segera diatasi. Sama seperti persoalan pungli dan pelemparan bus yang seakan sudah menjadi “borok” menahun. Seyogianya penegak hukum dan pengambil kebijakan kedua provinsi di Aceh dan Sumut bertindak tegas dan tidak main-main. Dilanjutkan dengan pengawasan serta peran aktif masyarakat akan sangat membantu mengatasi masalah ini tidak terulang lagi.

Tidak cukup hanya dengan menangkap “bajing loncat”, oknum-oknum yang terlibat dan ikut membantu serta melindungi mereka juga mesti ditindak. Termasuk juga penampung barang-barang hasil rampasan itu. Semua kita ikut mengawasi dan berperan. Karena rakyat yang bersatu menjadi kekuatan yang sangat kuat dan berpengaruh besar dalam mendobrak kezaliman.

Mari kita duduk sejenak memikirkan persoalan ini dan mencari solusinya. Tidak cukup dengan bertanya pada rumput yang bergoyang. Wallahu a’lam bisshawab!

Penulis adalah siswa Sekolah Riset Aceh Institute Angkatan I, peminat sosial politik dan pendidikan.

Maybe

                                                    Yes or no or maybe via medexec.org

Maybe you wanna go through this way

Maybe you wanna walk away

Maybe you wanna this time stay still

Maybe you wanna someone never give his or her back

Maybe you wanna someone approach you and come along with you

Maybe you wanna get closer for no one

Maybe you wanna take a little run beside the beach while holding sandals Continue reading Maybe

4 Desember

Hasan Tiro (alm) dan Eks GAM di Libya via http://www.modusaceh.com

[Aceh Institute, 4 Desember 2014]

Ada apa dengan 4 Desember? Apakah dunia bersuka atau berduka? Kenapa seakan ia tanggal yang sakral dan kerap dikenang bahkan dirayakan oleh sebagian orang Aceh? Bahwa dulu pernah ada seorang lelaki Tiro berdiri gagah di Gunung Tjokkan, Pidie, mengangkat senjata dan berjuang melawan ketidakadilan. Dan itu tidak bisa ditawar, meski ditukar dengan nyawa. Continue reading 4 Desember

What Do You Want To Do Before You Die?

What should I say to answer this question? Should I make lists that I want more in this life? Or I just sit here and do nothing?

The answer will lead you to the destination. Whether you choose this thing or other thing, the path is yours to reach it. It is something like you don’t want to die in no means of life. So, you will try hard to get to do what you have dreamed before or something you want most.

By thinking this way, I personally, always try my best in doing many things. For example, I will try to write something in notes or laptop. Because I believe in the future I will be a writer, even an author. Keep writing also means that I want to leave “something” to whom live now around me or live after me.

So, let’s think something important and do our best to make this happen before we die.

 

Pemborong dan Pembohong

Salah satu proyek pembangunan via http://www.copime.org.ar

Sudah bukan rahasia lagi bahwa pemborong sering dilakabkan dengan pembohong. Pasalnya, pemborong itu melaksanakan proyek dan memperoleh untung. Seperti dalam prinsip ekonomi lama, modal yang sekecil-kecilnya dan laba yang sebesar-besarnya.

Mereka memegang proyek, baik skala kecil, menengah maupun besar. Sebenarnya, kita haruslah sangat berterima kasih kepada mereka. Akan tetapi, kadangkala, kita juga dibuat kesal bahkan menjadi ‘murka” tatkala hasil dari proyek mereka kurang memuaskan.

Contoh konkretnya dapat kita jumpai dalam proyek-proyek pemerintah. Dan yang paling nyata lainnya adalah proyek rehab-rekon pasca Tsunami di Aceh. Rumah memang ada, bangunan memang nyata, akan tetapi “kelayakan” pakai atau huni itu yang patut kita pertanyakan.

Rumah bantuan acapkali catnya luntur, pintunya rusak, dindingnya hancur atau lantainya duluan bolong. Ada juga yang semestinya berlantai keramik, namun nyatanya hanya beralaskan semen.

Persen

Bila kita tanyakan kepada pemegang proyek, mereka akan berkilah bahwa tendernya memang mereka yang pegang, tapi yang ,menikmatinya bukan dia saja. Mulai dari pihak pelelangan, pemerintah setempat, sampai dengan kaki tangan “yang membisikkan” proyek. Sehingga, kalau spesifikasinya sesuai dengan yang seharusnya, mereka—pemegang proyek—akan gotong royong, alias tidak dapat untung. Malahn, bisa saja rugi. Tak ada hasil dari jerih mereka. Lantas, “disulaplah” dengan sedemikian rupa. Agar semua dapat jatah.

Nah, persenan itulah yang membuat “proyek” mandeg atau tidak sesuai spesifikasi. Jadi, para kontraktor itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya juga. Persoalaan ini sebenarnya dikerjakan secara massif. Semua bisa saja terlibat. Untuk menguraikan masalah ini, perlu penelurusan mendalam. Menyelesaikan masalah ini pun tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Butuh kerjasama dan kemauan lintas sektor.

Bisa anda bandingkan dengan proyek swasta, selain cepat, juga standarnya pas. Karena memang, betul-betul dikerjakan dan tidak ada “main mata” di sana. standarnya sudah ada. Bila memang sudah cocok, laksanakan. Kalau belum, kita cari alternatif lain.

Hotel Hemes, misalnya, kurang dari setahun rampung. Padahal, hotel tersebut adalah hotel berbintang empat. Selain karena dananya cukup, tidak ada pemotongan, ia adalah kepemilikan swasta. Pengawasannya ketat dan berstandar. Pekerjanya bekerja siang dan malam, mengejar target yang ingin dicapai. Itulah salah satu yang belum ada dalam sistem pemerintahan kita dalam proyek pembangunan. Banyak yang bermain di sana. Katanya, “kalau tidak sekarang, kapan lagi?”. Selagi menjabat, ya manfatkanlah. Mungkin, suatu hari nanti itu akan berubah menjadi lebih baik (lagi).

Saling Lirik

Dalam proyek skala besar, ada sistem pelelangan. Pihak yang berwenang mengumumkan tender berperan besar di situ. Kalau “persennya” sesuai, pemborong tersebut dapat proyek. Salah seorang teman pernah bilang, “Sekarang, jangan harap semua bisa gratis. Kencing saja bayar”. Begitu kilahnya.

How Competitive Sport Teach Us about Life

doing sport via http://www.toonpool.com

I love sports very much, even though not all kind of sports. At least, I love to watch the game. For instance, I love to watch GP, although through TV. I always wanted to watch the competition from circuit live, but I think this is not my time right now. I will have another chance, one day. Insha Allah. Almost every week I try to set the time to watch it on TV. When I watched the game, my heart beat faster as if I was driving that motor at that time.

MotoGP
MotoGP via mkalty.org

It took me to my last visit to my village, Bireuen, I was driving fast at the moment. I run after the other vehicle. I feel satisfied when I was at the front of other vehicle. Moreover, it taught me to be careful and keep both my eyes open to the street. If I not, I will get unexpected things happened. If I can assume, it is like a visionary of my life. I have to be prepared and step carefully before taking any decision. Caused this life is my life. I do not want to fail.

Moreover, our life is like a running competition. When we stop running, means we stop living. It is like a freedom and vitality we have that we should fight for it. It teaches me how to be brave and confident to grab the final rope.

Football

I have to tell you that I love football as well as GP. It inspired me how team works won the game. For example, when I watched my lovely football team Barcelona FC, known as Barca, versus real Madrid FC, known as El Real, in Copa Del Rey League. I can see a strong competition athmosphere in the field. When the first team (Barca) attacked by the second team (El real), they tried to block the ball from the opponent.

shoot via http://www.tiki-taka.org

On the contrary, the second team will try their hard and their best to make a goal. They passed the ball to the striker to shoot the ball to the gate. They work cooperatively to achieve the same goal, win. I watched by my eyes when they do the counter attack so fast. Lionel Messi shot the ball to the gate and the time is over. Finally, El Barca won the competition. When they do not play as their role, I think they will not win the game, because everyone wants to shoot the ball to the gate. So, this is a team work and everyone should respect the team.

When I share this hobby to my friend, Fikar, he also took me to his experience when he was in high school, Al Manar Boarding School. At first, his school’s football team was an underdog team in contrast to their opponent teams, especially Oemar Diyan, the favorite one. “In short, finally, after many obstacles, with all of our efforts and team work, my team goes to final after many challenges. Again, fortunately, at the end we took the first rank. When I compare to our individual team, we should not win that competition. However, by our passion and competing as a team, also praying, we can win the game”, He told me.

At this time, I remember one remarkable quote by Hegel, a Germany Philosopher, “Nothing great in the world has been accomplished without passion”. This is the proof that many things can be possible, of course after hard try, work, and focus and pray to succeed what we aimed to reach before. Then, I said to myself, “I do not want to lose it anymore in any competition”.

To sum up, life is just like a competition. Competition is everywhere, if we would like to live, and then compete. It teaches us about freedom, a strong willingness to fight what we believe that we should have by our side and win. If not, we will fall behind and the rest will leave us. Now, I realized that I still at this situation, so many great things that I should do and achieve. At this moment I should take my memory and experiences, develop my skills over and over again. Then, I should manage myself to think that this competition is mine. I should be abroad next year, Insha Allah. Please pray for me!

Thank you! 😀

Catatan Kecil Pemilu 2014


Pemilu memang sudah usai, namun cerita dibalik pemilu tetap menarik untuk diperbincangkan. Pada saat pileg, para kontestan yang sebelumnya belum punya akun Facebook dan Twitter, ramai-ramai membuat kedua akun tersebut. Mereka gencar memromosikan diri di dunia maya, di samping dunia nyata tentunya.

Selanjutnya, di dunia maya juga kerap muncul kampanye hitam dan “bully” caleg dan capres tertentu. Yang paling heboh adalah ketika masa kampanye capres. Hal ini kian gencar saja karena caparesnya hanya dua.

Tentu kita masih ingat ketika capres “kerempeng” dan capres “penunggang kuda” saling bertarung dalam arena yang tak terbatas. Ketika Anda membuka halaman Youtube, akan muncul kampanye salah satu kandidat. Baik untuk memilih salah satu atau menolak salah satunya, dengan berbagai alasan yang ada dibalik itu.

Dalam pada itu, beberapa kalangan membuat aksi tandingan –untuk mengimbangi kampanye hitam—dengan membuat “fun campaign”, kampanye menyenangkan alias lucu. Dengan beragam video yang menyindir atau sedikit meniru wajah para capres, seringkali membuat gelak tawa tak tertahan lagi.

Selain itu, ada juga yang ikut mengampanyekan “say no to golput”, sebagai lawan dari “golput”. Isinya adalah mengajak semua masyarakat, selaku konstituen, agar menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Golput sudahlah usai ketika “perang” melawan Orba dulu. Sekarang perjuangan adalah melalui “tidak golput”.

Catatan hitam

Meski “politik uang itu haram” sudah gencar didengungkan ke ruang publik dengan sanksi-sanksinya, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sistem ini masih dianut oleh sebagian masyarakat kita. Pada hari H pencoblosan ketika pileg pun belum mampu diredam sepenuhnya. Ada sebagian masyarakat “dihadang” di dekat tong pencoblosan oleh tim pemenangan dengan segelas kopi atau rokok. Di lain kesempatan dan tempat, ada juga yang diberikan kain sarung atau bahkan uang sejumlah tertentu, dari 30 ribu hingga 50 ribu per orangnya.

Memang, ada sebagian kalangan yang sudah menolak menerima uang. Sebagian malah ada yang mengatakan “ambil uangnya, jangan coblos orangnya”.

Kampanye hitam di Medsos

Di belahan dunia lain, dunia maya, aksi-aksi saling menghujat juga mewarnai pemilu kali ini. Dan yang paling parah adalah ketika pilpres. Dibandingkan dengan pileg, penggunaan media social sebagai aksi kampanye lebih banyak digunakan, baik langsung atau tidak. Yang melakukannya pun disinyalir juga bagian dari tim pemengangan capres tertentu, ada pula yang simpatisannya atau malah ada yang hanya iseng-iseng saja.

Ada yang “mengkritik” dengan masa lalunya, ada pula dengan tampangnya. Ada yang menggelar dengan “penunggang kuda”, ada juga dengan “kerempeng”. Semua dilihat dari sisi negatifnya.

Apresiasi dan harapan

Di lain sisi, pihak KPU juga mengundang kedua capres untuk memresentasikan visi dan misi serta berdebat demi kepntingan bangsa. Ini sebuah catatn yang bagus sekali dalam berdemokrasi kita.

Semoga ke depan bangsa ini bisa lebih maju lagi dan anak-anak bangsa dapat bangkit membangun negeri. Kita merindukan pemimpin sekaligus bangsa ini bangkit dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang mandiri dan disegani oleh bangsa lain.

Kita masih belajar berdemokrasi. Seiring waktu, kita akan semakin matang, jika kita belajar dari pengalaman dan tidak kembali ke masa yang kelam. Semoga kita bisa. Wallahuaa’lam Bisshawab!

Source of Picture: rumahpemilu.org

Pilpres, Quick Count dan Piala Dunia

Seminggu yang lalu, saya mendapat broadcast BBM dari teman bahwa kita—rakyat Indonesia– akan dilayani maksimal oleh dua pasangan presiden, yaitu Prabowo Subianto- Hatta Rajasa dan Joko Widodo- Jusuf Kalla. Konkretnya, di siang hari pasangan nomor 2 yang memimpin dan malamnya pasangan nomor 1 yang melayani rakyat. Sehingga, kita, rakyat, akan dilayani 24 jam.

Kalaulah boleh yang demikian, tentu ini adalah pembagian shift yang “ideal” dan maksimal, mengingat mereka sama-sama mengklaim dirinya menang. Namun, sistem yang seperti itu belum pernah ada di negara manapun, dimana ada dua presiden dalam satu negara. Hanya selorohan, mengingat kedua capres sama-sama mengklaim menang di sore harinya, pasca pemilihan presiden (pilpres) berdasarkan hasil Quick Count.

Seperti kita ketahui, ada delapan lembaga survei menyebutkan pasangan Jokowi-JK unggul. Mereka adalah RRI (Prabowo-Hatta 47,29 persen dan Jokowi-JK 52,71 persen), Litbang Kompas (47,66: 52,34), SMRC (47,09: 52,91), CSIS-Cyrus (48,00: 52,00), Lingkaran Survei Indonesia (46,56: 53,44), Indikator Politik Indonesia (47,06: 52,94), Poltracking Institute (46,63: 53,37), dan Populi Center (49,05: 50,95). Namun sebaliknya, ada empat lembaga survey yang mengunggulkan Prabowo-Hatta. Mereka adalah Puskaptis (Prabowo-Hatta 52,05: Jokowi-JK 47,95), Jaringan Suara Indonesia (50,14: 49,86), Lembaga Survei Nasional (50,56: 49,44), dan Indonesia Research Centre (51,11: 48,89).

Hasil real countnya memang belum kita ketahui, karena KPU belum menyelesaikan rekapitulasi suara, selaku penyelenggara pemilu. Akan tetapi, masing-masing kubu capres sudah saling mengklaim bahwa merekalah yang memegang tampuk pimpinan pilpres kali ini. Hal Inilah yang membuat publik pusing. Siapa yang “benar-benar” presiden kita?

Quick Count

Mengingat lembaga survey yang melakukan Quick Count sudah lebih dari satu, maka, sangat wajar kalau sampel yang diambil tidaklah persis sama antara satu lembaga dengan lembaga yang lain. Begitu pula hasilnya, tergantung kepada contoh (sampel) yang digunakan dan sembir galat (margin of error) yang dipakai. Untuk sebuah hasil yang ilmiah, sampelnya haruslah representative dan jumlahnya cukup, tidak memihak. “Data tidak memihak, yang memihak adalah manusia”, begitu kata pak Saiful Mahdi, pakar Statistik Unsyiah dalam diskusi publik di D’Rodya Coffee, 15 Juli 2014 dengan tema “Menanggapi Perbedaan Hasil Survey Quick Count Pilpres 2014 “. Nanti, akan ketahuan lembaga survey mana yang memihak, tentunya setelah KPU mengumumkan hasil real count.

Seperti pengalaman yang sudah-sudah, Quick Count menjadi tolak ukur sementara sebelum hasil real countnya diumumkan. Mulai dari pemilihan legislatif, kepala daerah, hingga ke presiden. Dan seperti sebelumnya pula, hasil real countnya berbeda dengan hasil Quick Count. Namanya juga dugaan, tentu tidak luput dari kesalahan, galat (error). Namun, harap dicatat,kalau metode yang dipakai benar, perbedaannya tidaklah mencolok sekali dengan pengumuman KPU.

Quick Count membantu capres, cagub, cabup, dan caleg untuk mengetahui secara sekilas dan cepat mengenai pendapat atau pilihan masyarakat terhadap elektabilitasnya. Keuntungannya,tidaklah seluruh penduduk menjadi sampel. Cukup mengambil sampel—dengan kadar tertentu—maka hasilnya bisa diketahui. Biaya dan waktu pun akan lebih hemat. Itulah kerja Quick Count, dari statistik.

Dengan adanya Quick Count, kita dapat mengetahui hasil dari pemilu secara cepat, sambil menunggu hasil realnya. Quick Count adalah salah satu unit statistik dengan menggunakan sebagian sampel, baik dipilih secara acak sederhana, maupun acak sistematis, bukan total populasi. Metode ini hanya mengambil beberapa sampel dari seluruh sampel yang diperlukan. Sehingga, hasilnya tidaklah sangat akurat atau sama persis seperti real count yang nantinya diumumkan oleh KPU. Oleh karenanya, sangatlah wajar kalau hasil yang diperoleh berbeda.

Nah, yang perlu dipertanyakan adalah metodologi yang digunakan seperti apa? Seberapa banyak sampel yang mewakili tingkat keterpilihan capres tertentu?. Apakah sampel yang diambil lebih banyak yang memilih capres tertentu atau sudah terwakili? Bila perlu, TPS mana saja yang dijadikan sampel dan berapa banyak total semuanya itu perlu dijelaskan ke pubilik. Sehingga, masyarakat tidak perlu ambil pusing masalah yang beginian. Mari kita kawal sama-sama “suara” kita agar hasil “real countnya” nanti memang suara sah, tidak terjadi manipulatif. Perdamaian dan kesatuan bangsa, itu yang mesti terjaga. Jangan sampai kita terpecah karena perbedaan hasil quick count.

Sama halnya dengan piala dunia, walau ada timnya yang kalah, buktinya, pertandingan piala dunia telah usai dengan keluarnya Jerman sebagai Juara mengalahkan Argentina dengan skor 1-0. Walaupun tuan rumah, Brazil, tidak mendapat piala apa pun, namun perhelatan olahraga Internasional empat tahunan itu tetap meriah dan aman-aman saja hingga final.

Begitu pula halnya pilpres yang lalu, kita telah sukses berdemokrasi. Walaupun sebelumnya ada yang meragukan itu. Kalau memang terjadi kecurangan, pihak yang merasa dirugikan agar melaporkan ke KPU dan Panwas Pemilu. Agar segera diambil jalan keluarnya.

Aturan Main

Dalam permainan—piala dunia dan tak terkecuali juga pilpres—tetap ada yang menang dan kalah. Jerman memang sudah jelas menjadi juara dunia kali ini, sejarah sudah mencatat. Sedangkan dalam pilpres, nantinya juga akan jelas siapa presiden terpilih. Karena kita belum menerapkan sistem e-vote, pemilihan elektronik, maka hasilnya tidak bisa kita ketahui langsung segera setelah penutupan pilpres. Kita harus bersabar, menunggu hasil real count dari KPU pada 22 Juli nanti, untuk menghindari pertikaian.

Mari sama-sama berharap bahwa siapapun yang terpilih nantinya, presiden “asli” akan memenuhi janji-janjinya selama kampanye dan terus melayani rakyat, bukan malah minta dilayani. Dan yang kalah sepatutnya “legawa” dan yang menang seyogianya tidak merendahkan yang kalah, menang dengan santun.

Pepatah mengatakan “don’t hate the player, but hate the game!” Jangan salahkan pemainnya, namun aturan mainnya. Karena di dalam permainan tetap ada menang dan kalah. Apakah Prabowo atau Jokowi? Kita nantikan saja! Semoga yang terbaik, yang dapat memberikan pelayanan terbaik, bagi kita semua! Amin.

Source of picture:m.bisnis.com

Some Stereotypes (Still) In Aceh

“What? it is really unfair to have a good friend or special relationship with people from Aceh Selatan, South Aceh!”. That (still) was a familiar “saying” or “stereotype” in my environment. They usually judge every person from South Aceh has a “Black Magic”, so never keep in touch or make some trouble with them. Actually, not all of them have some magic or want to hurt us with magic. We also often hear that people from Sigli are stingy. In fact, not always or not all of them are stingy. We even meet someone from other part of Aceh is stingier than the real Sigli. Usually we make some frame or generalisation to some one or community.

Talking about stereotype is an interesting thing to discuss and understand as it goals to avoid misunderstanding about one culture. Stereotype is a simplified and standardized conception or image invested with special meaning and held in common by members of a group. In global example, the cowboy and Indian are American stereotypes. It is like generalization about something or some one. I think it is not good idea to have in our culture because we only judge people by their looks not what really they are. We should know well and find out who are they and why they called as some “negative addressing”.

Therefore, misunderstanding or judging people by some stereotypes could be keep off. Let live in peace! 😀

 

 

Source of Picture: http://verysmartbrothas.com

Sebuah Catatan Penulis Muda

%d bloggers like this: